PENGANTAR SINGKAT
Artikel ini dicopy-paste dari artikel lama yang sudah ditayangkan di laman face book saya, pada 27 Agustus 2019. Karena itulah, hari ini, 27 Agustus 2021, saya share kembali di sini. Sama sekali tidak dilakukan edit sedikit pun, semenjak 27 Agustus 2019. Titik komanya tetap sama. Foto-foto yang dipasang di artikel ini pun, sama persis dengan foto-foto yang dipasang di artikel yang ditayangkan pada edisi 27 Agustus 2019. Anda bisa meminta bantuan ahli IT untuk memastikan keaslian artikel ini. Bagi mereka yang ingin membaca versi face booknya, boleh dibaca di link ini: https://www.facebook.com/antoninho.rego.1/posts/144195473451574.
Pesan terpenting dari artikel ini adalah, bahwa masih ada waktu 8 hari lagi untuk menyelamatkan Prof. Rama Metan. Pesan itulah yang saya jadikan sebagai judul utama artikel ini. Delapan hari itu, dihitung dari tanggal 28 Agustus 2019 sebagai hari pertama, sampai 4 September 2019, sebagai hari ke-8. Karena itulah, saya sengaja meletakkan kartu remi "Delapan Hati" bersama gambar "Hati Kudus Yesus" dan "Hati Tak Bernoda Perawan Maria". Melalui artikel tersebut, saya mengusulkan kepada Otoritas Unpaz untuk mendiskusikan "Janji Prof. Rama Metan kepada Allah", untuk menyelenggarakan Kejuaraan Catur Unpaz, selama 10 tahun, sebagaimana isi Surat Pernyataan Rektor Unpaz, tertanggal 4 September 2018. Tujuan dari penyelenggaraan Kejuaraan Catur Unpaz selama 10 tahun adalah untuk memperpanjang usia Prof. Rama Metan.
Tapi sayangnya, pesanku diabaikan. Dan akhirnya, setelah waktu 8 hari berakhir, pada tanggal 5 September 2019, Prof. Rama Metan menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Nasional Guido Valadares Dili, setelah menjalani Operasi Laparatomy kedua.
Secara lengkap, artikel edisi 27 Agustus 2019, bisa dibaca di bawah ini.
MASIH ADA WAKTU 8 HARI BAGI CIVITAS AKADEMIKA UNPAZ UNTUK MENYELAMATKAN PROF. RAMA METAN
Artikel ini adalah
bagian dari “Kesaksian Iman”.
Bukan bagian dari
“ramal-meramal”.
Pertama-tama saya
bersyukur kepada Allah karena sudah berkenan melakukan intervensi untuk
menyelamatkan Prof. Rama Metan.
Kedua, saya ucapkan
selamat kepada rekan-rekan dokter, di antaranya; dr. Nilton (Ahli Bedah), dr.
Mendes (Ahli Bedah), dr. Joana (Ahli Bedah), dr. Flavio (Ahli Anesthesi),
maupun dokter-dokter lainnya yang namanya tidak bisa saya sebutkan satu per
satu di sini, dan Staf Paramedis yang telah terlibat dalam keputusan penting,
guna melakukan “Operasi Komando” (Laparatomy Eksplorasi), untuk menyelamatkan
Prof. Rama Metan, guna melewati masa kritis.
Kemarin siang,
melalui Grup WA JURIDICA RENETIL, saya memberikan pesan kepada para Pendiri
RENETIL agar segera datang ke rumah Prof. Rama Metan dan mengikatnya dengan
tali, menaikkanya ke atas mobil untuk dibawa ke RSNGV (Rumah Sakit Nasional
Guido Valadares), karena Prof. Rama Metan sendiri, ogah untuk datang ke rumah
sakit dan malah merencanakan akan berangkat ke Bali hari ini. Padahal,
berdasarkan informasi (gejala klinis) yang disampaikan keluarganya ke saya
melalui telfon dan SMS, saya melihat adanya masalah serius dan darurat.
Informasi dari
keluarga, seperti; distensi abdomen, nyeri abdomen, pembengkakan perut, touch
pain (nyeri sentuh), obstipasi, retensi urine, panas yang sangat tinggi,
nausea, kesemuanya ini mengarah kepada kemungkinan telah terjadinya "obstruksi
tractus digestivus" (saluran pencernaan). Dan ini membutuhkan intervensi
medis secepat mungkin.
Karena itulah kemarin siang, melalui WA grup JUIDICA RENETIL, saya menuliskan frasa “ perlu adanya intervensi Bagian Bedah sesegera mungkin”, dan untuk itu, Pendiri RENETIL harus datang ke rumah Prof. Rama Metan saat ini juga, mengikat Prof. Rama Metan dengan tali, memasukkannya ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit”.
Akhirnya rekan-rekan
RENETIL benar-benar mengunjungi rumah Prof. Rama Metan dan memutuskan untuk
“membawa paksa” Prof. Rama Metan ke rumah sakit. Dan ternyata, hasil diagnosa,
mengejutkan. Terlambat sedikit saja, semuanya berakhir.
Tadi malam, Wakil
Menteri Kesehatan Timor Leste, sempat hadir di rumah sakit, untuk membicarakan
alternatif lain, merujuk Prof. Rama Metan ke Indonesia atau Singapura.
Tapi mengingat
kondisi Prof. Rama Metan yang sudah sangat serius, beliau sudah memperlihatkan
tanda-tanda “delirium”, dan berdasarkan hasil pemerikasaan CT-Scan, ada
indikasi, harus segera diambil tindakan intervensi (bedah) sesegera mungkin,
maka Prof. Rama Metan batal direferal ke luar negeri. Berterima-kasihlah kepada
upaya dan kerja keras rekan-rekan dokter di RSNGV.
Bayangkan saja. Jika
harus direfereal ke Singapura, menggunakan pesawat charteran khusus, sudah
berapa puluh ribu dolar yang harus dihabiskan. Beaya untuk charter pesawat
saja, sudah 35 ribu dolar Amerika. Belum beaya tindakan (operasi), belum beaya
jasa dokter, belum beaya penggunaan kamar rumah sakt, belum beaya obat, belum
beaya para medis.
Untuk itu, sekali
lagi, berterima-kasihlah kepada para dokter dan staf medis di RSNGV. Karena
mereka mengemban "misi ganda". Safe soul and save money, too".
Begitu tersebar
berita kalau Prof. Rama Metan (Rektor UNPAZ) jatuh sakit dan harus masuk rumah
sakit untuk menjalani “Operasi Laparatomy Eksplorasi”, inbox dan WA saya penuh
dengan pertanyaan tentang batas waktu “4 September 2019”, sebagaimana dapat
Anda baca melalui artikel edisi 30 Juli 2019, berjudul: RENETIL BERJUANG DI
MULUT SINGA DAN JANTUNG GARUDA. Artikel tersebut saya ‘share’ kembali di bawah.
Saya sengaja memilih
tanggal 30 Juli untuk menerbitkan artikel tersebut, karena artikel tersebut
masih berhubungan erat dengan artikel 30 Juli 2012, berjudul: SI TANGAN SABAT,
yang di dalamnya, saya menuliskan pesan bahwa Pak Xanana tidak akan menduduki
kursi Perdana Menteri sampai tahun 2017. Banyak orang mengancam akan membunuh
saya gara-gara artikl tersebut. Ternyata pada Februari 2015, Pak Xanana
benar-benar lengser (mengundurkan diri). Ini terjadi karena rancangan Allah.
Bukan karena ramalan saya. Saya bukan dukun ramal, apalgi dukun cabul.
Artikel 30 Juli 2019, semenjak diterbitkan, sama sekali tidak saya edit. Dalam artikel tersebut, saya tuliskan di sana bahwa terhitung mulai 4 September 2019 ke depan, Prof. Rama Metan berada dalam resiko tinggi, dan sewaktu-waktu bisa mengalami apa yang dialami Almarhum Fernando La Sama De Araujo. Untuk itu UNPAZ harus membentuks ebuah tim, untuk berdo’a Rosario setiap hari, yang dipersembahkan khusus kepada Bunda Suci Perawan Maria Lourdes”.
Seperti diketahui,
Almarhum Fernando La Sama De Araujo, Sekjen pertama RENETIL, yang juga
merupakan salahs atu dari 10 Pendiri RENETIL, yang pernah menghuni hotel prodeo
Cipinang Jakrta bersama Pak Xanana, dan Almarhum pernah menduduki kursi
menteri, kursi Presiden Parlamen dan kursi Perdana Menteri, akhirnya
menghembuskan nafas terakhir pada 2 Juni 2015.
Padahal 75 hari
sebelumnya, tepatnya pada 19 Maret 2019 (hari Raya Santo Yosef), saya
menyampaikan proposal terbuka (melalui akun lama, Rama Cristo), agar Pendiri
RENETIL memenuhi janji mereka di Jl. Pulau Ambon no. 51 Sanglah Denpasar Bali,
pada 20 Juni 1989, untuk menyembelih “Gallus Bankiva”, jika pada 1999,
Timor-Timur benar-benar berpisah dengan Indonesia, sesuai dengan kata-kataku
waktu itu.
Tapi sayangnya, para
Pendiri RENETIL mengabaikan proposalku untuk menyembelih Gallus Bankiva pada 2
April 2015. Bukan hanya mengabaikan. Tapi saya di-bully habis-habisan.
Ternyata, pada 2
April 2015, malah Uskup Dili, Mgr. Dom Alberto Ricardo da Silva, yang
meninggal. Dan selang 2 bulan kemudian, tepatnya 2 Juni 2015, Sekjen pertama
RENETIL, yang juga merupakan salah satu dari 10 Pendiri RENETIL, meninggal.
Padahal dalam
proposalku, edisi 19 MAret 2015, saya menuliskan pesan dengan bahasa yang
sangat lugas di sana, bahwa jika Gallus Bankiva tidak disembelih pada 2 April
2015, di Lapangan Pramuka Dili, dengan melempar koin berlambang Ratu Elizabeth
II sebanyak 444X, maka salah satu Pendiri RENETIL akan dipanggil Allah. Dan
proposal tersebut malah menjadi bahan tertawaan.
Sampai detik ini,
pertanyaan mengenai dead line 4 September 2019, masih terus mengalir masuk.
Telfon saya terus berdering, sampai-sampai saya harus matikan HP.
Dini hari tadi, saya
masih berada di RSNGV. Setelah Prof. Rama Metan (yang merupakan salah satu
Pendiri RENETIL), dibawa masuk ke ruang operasi, saya dan sejumlah rekan
RENETIL yang menunggu di luar, sudah mendiskusikan “dead line” 4 September
2019, dan kami sepakat memutuskan untuk tidak boleh membicarakan isu tersebut,
setiadkanya untuk saat ini.
Tapi baru saja
beberapa menit yang lalu, “Kakek Misterius” kembali menampakkan Diri dan
memberikan perintah; bahwa saya memiliki kewajiban iman dan kewajiban moral
untuk harus menjelaskan sesuatu mengenai isi artikel tersebut, terutama
mengenai “dead line” (batas waktu) 4 September 2019 yang tertulis di sana,
sebagai bagian dari “Kesaksian Iman”. Bukan bagian dari kegiatan
“ramal-meramal”.
Karena itulah artikel ini ada.
Untuk sementara ini,
saya belum bisa konsentrasi (fokus) untuk menulis artike yang baik. Karena
masih sangat “ngantuk” saat ini. Maunya tidur lagi sampai malam. Oleh karena
itu, melalui catatan ini saya hanya mau sampaikan pesan seadanya kepada
“Otoritas UNPAZ” maupun Civitas Akademika UNPAZ lainnya, untuk berunding dengan
Keluarga Prof. Rama Metan, guna mengambil keputusan penting, yang bertujuan
menyelamatkan Prof. Rama Metan, tanpa harus menunggu instruksi dari Prof. Rama
Metan, selaku Rektor UNPAZ, mengingat kondisi beliau yang masih dalam perawatan
(pemulihan) pasca operasi besar (Laparatomy Eksplorasi).
Keputusan yang harus
diambil Otoritas UNPAZ, sederhana saja. Ada satu opsi di antara dua pilihan.
Mau menepati janji Prof. Rama Metan, untuk menyelenggarakan Kejuaraan Catur di
UNPAZ selama 10 tahun, sebagaimana janji Prof. Rama Metan yang tertulis dalam
surat edaran dengan nomor; 401/UNPAZ/IX/2018, tertanggal 4 September 2018?
Batas waktu untuk
membuat keputusan hanya sampai 4 September 2019. Berarti hanya tersisa 8 hari
dari hari ini, 27 Agustus 2019. Setelah melewati 4 September 2019, semua
kesempatan untuk memperpanjang usia Prof. Rama Metan, tertutup total.
Pilihan kini ada di
tangan Otoritas UNPAZ dan Keluraga Prof. Rama Metan. Mengindahkan edaran 4
September 2018, syukur. Tidak mengindahkan juga, syukur. Tugas saya hanya
sebatas menyampaikan pesan dari "dunia lain".
Tentang pertanyaan;
“Mengapa harus memilih 4 September 2019 sebagai dead line?” Akan saya sampaikan
dalam artikel berikutnya.
“Apa gunanya seorang
memiliki seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya” (Markus 8:36)
Terima-kasih sudah
mau membaca catatan ini sampai di sini.
Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar