Oleh: Rama Cristo, S-33.
ABSTRAK
INTRODUKSI: Pemerintah Timor-Leste, melalui Kementerian Dalam Negeri,
telah memunculkan wacana untuk promosi kenaikan pangkat secara masif bagi
anggota Polisi Nasional Timor-Leste (PNTL), melibatkan sekitar dua ribu
personel dengan beberapa di antaranya mengalami lonjakan pangkat signifikan,
seperti dari Sersan langsung ke Mayor. Wacana ini menimbulkan pertanyaan di
kalangan masyarakat dan oposisi mengenai motif dan dasar hukum yang
mendasarinya.
TUJUAN: Artikel ini bertujuan untuk menganalisis wacana promosi
kenaikan pangkat massal di tubuh PNTL, mengevaluasi landasan hukum yang
digunakan, membandingkannya dengan praktik serupa di negara lain, serta menilai
apakah langkah ini merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi polisi atau
strategi politik penguasa.
METODE: Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan deskriptif-analitis. Data sekunder dikumpulkan melalui studi
literatur dari sumber-sumber valid seperti buku, jurnal dari sejumlah negara, maupun
dokumen resmi pemerintah Timor Leste. Sementara untuk data primer artikel ini,
merupakan hasil wawancara dengan beberapa informan sebagai narasumber.
DISKUSI: Timor-Leste, sebagai negara yang relatif baru, telah
mengalami berbagai dinamika dalam pembentukan institusi keamanannya. PNTL
didirikan untuk menjaga ketertiban dan keamanan dalam negeri. Namun, wacana
kenaikan pangkat massal ini menimbulkan pertanyaan mengenai dasar hukum yang
digunakan dan referensi dari negara lain yang diadopsi. Beberapa pihak
mempertanyakan apakah ini merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi polisi
atau upaya penguasa untuk memperkuat posisi di tengah isu korupsi yang melanda
pemerintahan.
HASIL: Analisis menunjukkan bahwa tidak ditemukan preseden serupa
di negara lain mengenai kenaikan pangkat massal dalam institusi kepolisian.
Selain itu, landasan hukum yang digunakan oleh pemerintah Timor-Leste dalam
wacana ini masih belum jelas, menimbulkan kekhawatiran di kalangan oposisi dan
masyarakat.
KESIMPULAN: Wacana promosi kenaikan pangkat massal di PNTL menimbulkan
berbagai pertanyaan mengenai motif, dasar hukum, dan implikasinya terhadap
institusi kepolisian serta stabilitas politik di Timor-Leste.
REKOMENDASI: Diperlukan transparansi dari pemerintah mengenai dasar hukum
dan alasan di balik wacana ini. Selain itu, perlu dilakukan kajian mendalam
dengan melibatkan berbagai pihak terkait untuk memastikan bahwa langkah ini
tidak merugikan profesionalisme dan independensi PNTL.
Kata
Kunci: PNTL, kenaikan pangkat masif, Xanana
Gusmão, politik, meritokrasi, bela negara, bela penguasa.
BAB 1: PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hari ini, 27 Maret 2025, PNTL
(Polisi Nasional Timor Leste), merayakan ulang tahunnnya yang ke 25. Saya
secara pribadi mengucapkan selamat ulang tahun untuk PNTL dan seluruh
jajarannya. Semoga PNTL semakin jaya dan semakin sukses.
Kepolisian merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga keamanan dan menegakkan hukum di suatu negara, memainkan peran krusial dalam melindungi masyarakat, mencegah kejahatan, serta menegakkan keadilan. Sebagai institusi yang diberi kewenangan oleh negara, kepolisian bertugas untuk memastikan ketertiban umum, menegakkan hukum secara adil, serta memberikan perlindungan kepada setiap warga negara tanpa diskriminasi. Selain itu, kepolisian juga berperan dalam membangun kepercayaan publik melalui pendekatan preventif dan represif yang profesional serta berlandaskan etika dan hak asasi manusia. Dengan eksistensinya yang vital, kepolisian menjadi garda terdepan dalam menciptakan stabilitas sosial dan politik, yang pada akhirnya berkontribusi pada kesejahteraan dan kemajuan suatu bangsa.
Timor-Leste, sebagai negara yang
meraih kemerdekaannya pada tahun 2002, menghadapi berbagai tantangan dalam
membangun institusi negara yang kuat dan mandiri. Salah satu institusi vital
adalah Polisi Nasional Timor-Leste (PNTL), yang dibentuk untuk menjaga keamanan
dan ketertiban dalam negeri. Sejak berdirinya, PNTL telah berperan penting
dalam menjaga stabilitas dan mendukung proses pembangunan nasional. Dalam
perjalanannya, PNTL telah mengalami berbagai perubahan dan reformasi untuk
meningkatkan profesionalisme dan kapasitasnya. Namun, wacana terbaru mengenai
promosi kenaikan pangkat secara masif bagi sekitar dua ribu anggota PNTL
menimbulkan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat,
terutama dari pihak oposisi. Beberapa anggota bahkan dilaporkan akan mengalami
lonjakan pangkat signifikan, seperti dari Sersan langsung ke Mayor, yang
dianggap tidak lazim dan sulit ditemukan referensinya di negara lain.
Pertanyaan utama yang muncul adalah
mengenai landasan hukum yang digunakan pemerintah dalam mengusulkan wacana ini.
Apakah terdapat peraturan atau undang-undang yang mendukung promosi kenaikan
pangkat dalam jumlah besar dan dengan lonjakan pangkat yang signifikan? Selain
itu, apakah terdapat referensi dari negara lain yang dijadikan acuan dalam
mengambil keputusan ini?
Beberapa pihak menduga bahwa wacana
ini muncul sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengabdian para anggota
PNTL terhadap negara dan bangsa. Namun, ada pula kekhawatiran bahwa langkah ini
merupakan strategi politik dari penguasa untuk menanamkan pengaruh dan
loyalitas di tubuh PNTL, terutama mengingat adanya isu korupsi masif yang
melibatkan pejabat tinggi, termasuk Perdana Menteri Xanana Gusmão. Isu korupsi
yang mencapai ratusan triliun rupiah ini menimbulkan pertanyaan apakah penguasa
merasa terancam dan berusaha memperkuat dukungan dari institusi penegak hukum
melalui promosi kenaikan pangkat massal ini. Ini adalah pertanyaan krusial fihak
oposisi untuk memunculkan kewaspadaan banyak orang.
Sebagai oposisi, penting untuk
mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas dalam proses promosi ini. Apakah
mekanisme seleksi dan penilaian kinerja telah dilakukan secara objektif dan
adil? Bagaimana dampaknya terhadap moral dan profesionalisme anggota PNTL
lainnya yang mungkin merasa diabaikan atau tidak dihargai?
Selain itu, perlu dipertimbangkan
implikasi jangka panjang dari kebijakan ini terhadap struktur organisasi dan
efektivitas PNTL dalam menjalankan tugasnya. Apakah promosi massal ini akan
memperkuat institusi atau justru menimbulkan ketidakstabilan internal?
Dalam konteks ini, transparansi dan
partisipasi publik menjadi krusial. Pemerintah perlu membuka ruang dialog
dengan berbagai pihak, termasuk oposisi, masyarakat sipil, dan akademisi, untuk
membahas dan mengevaluasi wacana ini secara mendalam sebelum mengambil
keputusan final.
BAB
2: ANALISIS KRITIS TERHADAP WACANA KENAIKAN PANGKAT MASSAL PNTL
2.1.
Landasan Hukum Kenaikan Pangkat PNTL
Pemerintah Timor Leste, melalui
Kementerian Dalam Negeri, mengajukan wacana kenaikan pangkat massal bagi
anggota PNTL dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun,
pertanyaan utama yang muncul adalah landasan hukum apa yang digunakan untuk
mendukung kebijakan ini? Secara umum, promosi pangkat dalam kepolisian biasanya
mengikuti aturan yang ketat berdasarkan kinerja, masa kerja, serta kriteria
lainnya yang telah ditetapkan dalam regulasi nasional maupun internasional.
Dalam konteks Timor Leste, aturan terkait kepolisian tertuang dalam
Undang-Undang No. 9 Tahun 2009 tentang PNTL. Namun, tidak ada pasal yang secara
eksplisit mendukung kenaikan pangkat dalam jumlah besar seperti yang diusulkan
saat ini.
2.2.
Perbandingan Dengan Negara Lain
Kenaikan pangkat dalam jumlah besar
di institusi kepolisian jarang ditemukan dalam praktik internasional.
Negara-negara dengan sistem kepolisian yang mapan, seperti Amerika Serikat dan
Inggris, menerapkan sistem promosi berbasis meritokrasi yang ketat, dengan
evaluasi berkala dan tes kompetensi yang harus dilewati oleh setiap anggota.
Bahkan di negara-negara berkembang, promosi dalam kepolisian tetap mengikuti
aturan bertahap dengan jumlah yang terbatas dalam satu periode tertentu. Oleh
karena itu, wacana kenaikan pangkat massal dalam PNTL menjadi sebuah anomali
yang sulit dijustifikasi.
2.3.
Motivasi Politik di Balik Wacana Ini
Salah satu pertanyaan besar yang
muncul dari kebijakan untuk mempromosikan kenaikan pangkat PNTL secara massal
adalah motif politik yang melandasinya. Pemerintahan Xanana Gusmão saat ini
sedang menghadapi berbagai tuduhan terkait korupsi yang nilainya mencapai ratusan
triliun rupiah. Dalam situasi politik yang penuh tekanan ini, muncul spekulasi
bahwa kenaikan pangkat massal ini bukan semata-mata sebagai bentuk apresiasi
terhadap dedikasi anggota PNTL, melainkan sebagai upaya untuk mengamankan
dukungan dari institusi kepolisian yang memiliki peran strategis dalam
stabilitas pemerintahan. Apalagi akhir-akhir ini, Xanana selaku Perdana Menteri
dan Ramos Horta selaku Presiden, memunculkan wacana untuk mengaktifkan kembali “Arte
Marsiais dan Arte Rituais” yang telah dibubarkan oleh Xanana sendiri. Ini
semakin mencurigakan. Ada apa sebenarnya?
2.4.
Potensi Dampak Terhadap Profesionalisme PNTL
Salah satu kekhawatiran utama yang
dikemukakan oleh oposisi adalah dampak kebijakan ini terhadap profesionalisme
PNTL. Dalam organisasi kepolisian yang sehat, promosi biasanya diberikan
berdasarkan prestasi dan pengalaman, bukan atas dasar kebijakan politik. Jika
promosi dilakukan secara massal tanpa seleksi yang ketat, ada risiko bahwa
anggota kepolisian yang tidak kompeten akan menduduki posisi strategis, yang
pada akhirnya dapat menurunkan kualitas layanan kepolisian terhadap masyarakat.
2.5.
Reaksi Oposisi dan Masyarakat Sipil
Kalangan oposisi dan masyarakat
sipil merespons wacana ini dengan skeptisisme tinggi. Beberapa partai oposisi,
seperti Fretilin dan PLP, secara terbuka mengkritik kebijakan ini sebagai
bentuk kooptasi terhadap institusi keamanan. Sementara itu, organisasi
masyarakat sipil, termasuk LSM pemerhati HAM dan transparansi, menuntut adanya
kajian mendalam dan transparansi dalam proses kenaikan pangkat ini.
2.6.
Konsekuensi Jangka Panjang Terhadap Stabilitas Negara
Dalam jangka panjang, kebijakan
kenaikan pangkat massal dapat menimbulkan berbagai konsekuensi negatif,
terutama dalam hal stabilitas politik dan hukum. Jika kepolisian menjadi alat
politik bagi pemerintah, maka akan semakin sulit bagi Timor Leste untuk
membangun institusi keamanan yang netral dan profesional. Sebaliknya, jika
wacana ini terus berlanjut tanpa mekanisme pengawasan yang jelas, maka akan berisiko
menciptakan preseden buruk bagi pemerintahan selanjutnya.
BAB
3: PENUTUP
3.1.
Resume
Wacana kenaikan pangkat massal bagi
anggota PNTL yang diusulkan oleh pemerintah Xanana Gusmão telah menimbulkan
berbagai kontroversi. Dari analisis yang telah dilakukan, terdapat beberapa
permasalahan utama yang patut menjadi perhatian. Di antaranya adalah
ketidaksesuaian dengan prinsip meritokrasi, ketiadaan landasan hukum yang kuat,
serta potensi besar adanya motif politik di balik kebijakan ini. Selain itu,
perbandingan dengan sistem kepolisian di negara lain menunjukkan bahwa langkah
ini bukanlah praktik umum dalam tata kelola kepolisian yang baik. Jika
kebijakan ini tetap dijalankan tanpa mekanisme seleksi yang ketat, maka
profesionalisme dan netralitas PNTL akan terancam.
3.2.
Rekomendasi
Berdasarkan hasil diskusi di atas,
terdapat beberapa rekomendasi yang dapat diajukan:
- Transparansi dalam Kenaikan Pangkat: Pemerintah harus menjelaskan secara terbuka mekanisme
seleksi dan evaluasi yang digunakan dalam promosi pangkat ini agar tidak
menimbulkan kecurigaan publik.
- Kepatuhan terhadap Prinsip Meritokrasi: Proses kenaikan pangkat harus berbasis kinerja dan
kompetensi, bukan pertimbangan politik.
- Kajian Akademis dan Praktis: Pemerintah sebaiknya melakukan kajian komprehensif
mengenai dampak kebijakan ini terhadap profesionalisme PNTL sebelum
mengambil keputusan final.
- Penguatan Peran Oposisi dan Masyarakat Sipil: Organisasi masyarakat sipil dan partai oposisi harus
diberikan ruang untuk memberikan masukan dan pengawasan terhadap kebijakan
ini.
- Evaluasi Independensi Institusi Keamanan: Langkah ini penting untuk memastikan bahwa institusi
keamanan di Timor Leste tetap berfungsi secara netral, imparsial dan
profesional, tanpa intervensi politik yang berlebihan.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor di atas, sangat penting bagi pemerintah Timor Leste untuk berpikir matang sebelum menerapkan kebijakan yang memiliki dampak jangka panjang terhadap institusi keamanan dan stabilitas negara.
Bibliografi
Croissant, A & Lorenz, P. (2017). Timor-Leste: Challenges of Creating a Democratic and Effective State, Book Chapter•10.1007/978-3-319-68182-5_11
Cunha, R.S. (2019). Constitutional Exception as the Basis for Security Sector Reform in Timor-Leste, Book Chapter-10.1007/978-3-030-49000-3_23, New York City Law Department (Springer, Cham) - Vol. 82, pp 405-423,
Hébert, N.L. (2009). UNPOL and Police Reform in Timor-Leste:
Accomplishments and Setbacks. . Journal
Article - 10.1080/13533310903036442International Peacekeeping (Routledge)
- Vol. 16, Iss: 3, pp 393-406/
Jaworski, B. (2023). Police force as an internal security administration entity, https://rocznikiadministracjiiprawa.publisherspanel.com/article/539516/en . doi:10.5604/01.3001.0053.9516.
Kingsbury, D. (2010). Policing, Rule of
Law, State Capacity and Sustainable Peace in Timor-Leste, Journal
Article10.1163/187541110X504391/- Journal of International Peacekeeping , (Brill)/- Vol. 14, pp 353-374.
Nickerson, R. (2022). Accommodating Incomplete DDR, Security Sector Development, and Veterans’ Issues to Peacebuilding Efforts: National Responses, Suco, and Local Security in Timor-Leste. Book Chapter•10.1007/978-3-031-18219-8_8.
Nikitin, A.A. (2022). Organization of the National Police activities as a subject of the security and defense sector, Bulletin of Kharkiv National University of Internal Affairs/ Journal Article•10.32631/v.2022.2.18
Pereira, A. (2014). The Challenges of Nation-State Building, Book Chapter - 10.22459/NE.09.2015.02/
Simonsen, S.G. (2009). The role of East Timor's security institutions in national integration – and disintegration, Journal Article - 10.1080/09512740903329715, Peace Research Institute Oslo, Pacific Review , (Taylor & Francis Group) - Vol. 22, Iss: 5, pp 575-596
Lampiran Paper 1, artikel dari Ukraina:
Organization of the National Police Activities as a Subject of the Security and Defense Sector
Conclusions from the Paper
The paper presents several key conclusions regarding the
organization of the National Police's activities within the security and
defense sector. Here are the main points:
- Definition of Security and Defense Sector: The author formulates a specific definition of the
security and defense sector based on an analysis of existing scholarly
works. This definition is crucial for understanding the role of the
National Police within this framework.
- Need for International Experience:
It is emphasized that studying and applying the experiences of
international organizations such as NATO, the EU, and the OSCE is
essential. This approach aims to improve national legislation and address
existing gaps in the legal framework governing the National Police's
operations in security and defense.
- Powers of the National Police:
The paper establishes that the powers of the National Police are broad and
aimed at protecting Ukraine's national interests. This includes
safeguarding against internal and external threats, ensuring state
sovereignty, and maintaining territorial integrity.
- Compliance with Principles:
A critical conclusion is that police officers must adhere to various
principles during their duties. These include the rule of law, respect for
human rights, legality, transparency, political neutrality, and community
engagement. Compliance with these principles is deemed essential for
effective policing.
- Proposed Legal Revisions:
The author suggests specific amendments to existing laws, such as the Law
of Ukraine “On the National Police” and the Law of Ukraine “On the
National Security of Ukraine.” These changes aim to clearly define the
police's role as a subject of the security and defense sector and outline
specific national security tasks that require police involvement. This
would enhance the National Police's effectiveness in fulfilling its
responsibilities.
In summary, the paper advocates for a comprehensive approach to organizing the National Police's activities, emphasizing the importance of legal clarity, adherence to principles, and learning from international best practices to strengthen Ukraine's security and defense framework.
Lampiran Paper 2:
Constitutional Exception as the Basis for Security Sector Reform in Timor-Leste
Conclusions From The Paper:
The paper does not specify the primary
responsibilities of the National Police of Timor-Leste in maintaining internal
security. It focuses on the legal regime and reforms related to national
security and the development of military and police forces.
The paper discusses the legal framework surrounding national
security in Timor-Leste, particularly focusing on the implications of
constitutional exceptions. Here are the key conclusions drawn from the paper:
- Foundation of Legal Regime: The legal regime governing national security in Timor-Leste is fundamentally based on responses to constitutional exceptions. This framework was established following the country's independence in 2002 and was significantly influenced by the crises experienced in 2006 and 2008. These events prompted the formation of joint military and police taskforces, which have been crucial in shaping the current security landscape.
- Impact of Past Crises: The crises of 2006 and 2008 served as critical learning experiences that informed the legal structures for organizing and developing military and security forces. The lessons learned from these crises have been integrated into the traditional doctrines of national security, emphasizing the need for a robust legal framework to address security challenges.
- Legal Reforms and Testing: The legal reform initiated in 2010 was put to the test during Operation “Hanita” in 2015. This operation was pivotal in assessing the effectiveness of the new legal structures and led to the approval of the Strategic Concept on National Defence and Security in 2016. This indicates a proactive approach to refining security policies based on practical experiences.
- Ongoing Challenges: Despite the establishment of these legal regimes, the paper highlights that there are still significant challenges in their implementation. These challenges must be addressed to ensure that the Defence and Police Forces operate effectively under the Rule of Law, especially during peacetime. The ongoing difficulties suggest that while the framework is in place, practical application remains a critical area for improvement.
- Importance of Rule of Law: The emphasis on building a system of Defence and Police Forces under the Rule of Law is a central theme. This approach is essential for maintaining stability and security in Timor-Leste, ensuring that the forces operate within a legal and ethical framework.
- In summary, the paper underscores the importance of a well-structured legal regime for national security in Timor-Leste, shaped by historical crises, ongoing reforms, and the necessity of addressing implementation challenges to uphold the Rule of Law.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar