SELAMAT DATANG

Selamat datang di Blog Darah Daud 303. Semoga Anda menikmati apa yang ada di blog ini. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amen.

Cari Blog ini

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Blog DARAH DAUD 303 Memiliki aktivitas antara lain: penelitian, penulisan & konseling

Sabtu, 04 September 2021

MISTERI RUMPUN BENJAMIN “Lebih Mudah Langit dan Bumi Lenyap Dari Pada Satu Titik Dari Hukum Taurat Batal” (1)

Pengantar Singkat

Hari ini, 4 September 2021, saya share kembali seri pertama artikel berjudul: MISTERI RUMPUN BENJAMIN, dengan sub judul: “Lebih Mudah Langit dan Bumi Lenyap Dari Pada Satu Titik Dari Hukum Taurat Batal. Artikel tersebut diposting di timeline face book saya, pada 2 tahun lalu, tepatnya pada 4 September 2019. Jadi hari ini, 4 September 2021, artikel tersebut, genap berusia 2 tahun. Sama sekali tidak dilakukan edit sedikit pun, semenjak 4 Sptember 2019. Termasuk 4 foto yang dilampirkan dalam artikel tersebut yang ditayangkan pada 4 September 2019, saya lampirkan kembali di sini. Jika Anda ingin membaca versi face booknya, bisa diklik di link ini: https://www.facebook.com/antoninho.rego.1/posts/145801719957616.

Terima-kasih. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amen.

MISTERI RUMPUN BENJAMIN “Lebih Mudah Langit dan Bumi Lenyap Dari Pada Satu Titik Dari Hukum Taurat Batal” (1)

Hari ini 4 September 2019. Telah memasuki batas waktu, hari terakhir, bagi Civitas Akademika UNPAZ untuk mewujudkan “LIGA CATUR UNPAZ”, sesuai Surat Pernyataan Rektor UNPAZ, dengan nomor: 401/UNPAZ/IX/2018, tertanggal 4 September 2018, sebagaimana terlampir.

Dengan sisa waktu yang hanya tinggal beberapa jam lagi, sampai pukul 00 (nol nol) malam ini, nyaris mustahil, bagi Civitas Akademika UNPAZ untuk menepati janjinya, menyelenggarakan LIGA CATUR UNPAZ.

Berhubung isi lengkap Surat Pernyataan terlampir, agak kabur, maka secara lengkap, saya salin kembali di bawah;

SURAT PERNYATAAN

401/UNPAZ/IX/2018

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya Prof. Dr. Lucas da Costa,SE,.MSi, bertindak dalam kapasitas saya sebagai Rektor Universidade da Paz (UNPAZ), menyatakan bahwa atas berkat dan rahmat Allah, Universidade da Paz (UNPAZ) bersedia menyelenggarakan LIGA CATUR UNPAZ, dalam kurun waktu 10 tahun, dari 2018 sampai 2028.

Demikian surat pernyataan ini saya buat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Dili, 4 September 2018.

Tertanda.

Prof. Dr. Lucas da Costa,SE,.MSi.

Rektor Universidade da Paz.

Surat Pernyataan yang
ditanda-tangani oleh
Prof. Lucas pada tanggal
4 September 2018 
TERPAKSA HARUS DIKELUARKAN DARI “PERJANJIAN YOSUA”

Berdasarkan “hukum-hukum Ilahi”, berhubung Rektor UNPAZ tidak menepati janjinya untuk menyelenggarakan “LIGA CATUR UNPAZ”, maka dengan sangat menyesal, saya sampaikan bahwa Prof. Dr. Lucas da Costa,SE,MSi, harus dikeluarkan dari “Perjanjian Yosua”, dengan segala konsekuensinya.

Mengapa pesan kali ini diberi judul: “Misteri Rumpun Benjamin?” Ikuti lanjutannya yang akan diposting di laman ini, besok malam.

Sambil menunggu lanjutannya besok malam, bagi mereka yang di rumah memiliki novel “best seller” karya “orang Amrik” bernama “Dan Brown”, berjudul: THE DA VINCI CODE, edisi Bahasa Indonesia, cetakan ke-11, terbitan Maret 2005 (sampulnya dalam foto terlampir), coba buka halaman 346, dan baca sub-judul: RUMPUN BENJAMIN.

Nilai Gematris Latin dari frasa: RUMPUN BENJAMIN dan frasa CATUR MOBILISASI, memiliki kesamaan DNA, karena sama-sama menghasilkan angka “171”.

RUMPUN BENJAMIN = 171.

CATUR MOBILISASI = 171.

HUKUM TAURAT (HUKUM MEMOTONG URAT)

Jika kata TAURAT dianggap sebagai “Bahasa Tetun” (Bahasa Nasional Timor Leste), maka; TA artinya: memotong. Jadi TA-URAT, artinya; “Memotong Urat”.

Pada tanggal 8 Maret 2019, sehari sebelum perayaan “Dies Natalis UNPAZ ke-15, 9 Maret 2019”, di mana Pak Xanana hadir di sana dan menghabiskan waktu 12 jam, saya menerbitkan artikel berjudul: “MENYEMBELIH GALLUS BANKIVA UNTUK MENYELAMATKAN PAK XANANA & PROF. RAMA METAN”.

Dalam artikel tersebut, saya menyampaikan pesan penting, bahwa, ada prasyarat mutlak yang harus dipenuhi untuk bisa menyembelih “Gallus Bankiva, yaitu Civitas Akademika UNPAZ harus menghubungi keluarga atau sahabat yang tinggal di Denpasar Bali, dan minta yang bersangkutan datang ke Mall Ramayana (dekat kediaman Pangdam IX Udayana, bukan Mall Ramayana yang ada di Sesetan Denpasar), lalu naiklah ke lantai atas, tepatnya lantai di mana ada penjualan: sepatu, tas dan koper, terus pergilah ke bagian penjualan koper, periksalah di atas balkon. Di sana saya telah menuliskan 3 digit bilangan TAURAT “482”, pada 8 Mei 2018.

Pada 8 Mei 2018, saya datang membeli sebuah koper berukuran besar, berwarna merah, sebagai persiapan untuk membawa “simbol” (patung) Bunda Suci Perawan Maria Lourdes dari Denpasar ke Dili.

Saat itulah, saya menuliskan 3 digit bilangan, yang jika dilafalkan, nilai Gematrisnya sama dan paralel dengan tanggal “27 Agustus 2019” (482).

Tanggal 27 Agustus 2019, adalah tanggal di mana Prof. Lucas da Costa, menjalani “Operasi Laparatomi Eksplorasi” di Rumah Sakit Nasional Guido Valadares (RSNGV), yang dimulai dari pukul: 00:30 sampai pukul 05:00 (pagi).

Coba Anda lafalkan tanggal “27 Agustus 2019”, dengan bunyi; DUA PULUH TUJUH AGUSTUS DUA RIBU SEMBILAN BELAS. Lalu konversikan semua huruf dalam kalimat: DUA PULUH TUJUH AGUSTUS DUA RIBU SEMBILAN BELAS, ke dalam bilangan Gematria Latin, lalu jumlahkan nilai konversi. Hasilnya pasti = 482.

Dua puluh tujuh = 184.

Agustus = 108.

Dua ribu Sembilan belas = 190.

Jumlahkan; 104 + 108 + 190 = 482.

Jadi tiga digit bilangan yang saya tuliskan di atas balkon Mall Ramayana, pada 8 Mei 2019, saat membeli koper besar untuk membawa patung Bunda Suci Perawan Maria Lourdes ke Dili adalah: “482”.

Itu artinya, bilangan yang seharusnya dilafalkan untuk menyembelih Gallus Bankiva pada Perayaan Dies Natalis UNPAZ ke-15, 9 Maret 2019, adalah bilangan TA-URAT: 482. Nilai Gematris Yahudi dari kata TA-URAT adalah “482”. Jadi bilangan 482 adalah simbol (bilangan) TA-URAT.

T= 100, A=1, U=200, R=80, A=1, T=100. Total: 482.

Apa arti dari ini semua? Artinya, pada “tataran teologis”, bukan pada “tataran medis”, jika pada Perayaan Dies Natalis ke-15, 9 Maret 2019, ada peristiwa TA-URAT (Pemotongan Urat) di Kampus Biru UNPAZ, maka Prof. Rama Metan tidak harus mengalami “pemotongan urat” (Operasi Laparatomi Eksplorasi), pada 27 Agustus 2019.

Ini adalah bagian dari “Prodivencia Divina“ (Penyelenggaraan Ilahi), yang penuh misteri, yang tidak bisa kita jangkau, kita fahami, kita cerna, dengan kemampuan logika kita yang terbatas.

Saat ini saya sedang berada di Dili Timor Leste, tepatnya saya tinggal di “Istana Puteri Wandan Kuning”. Saya tidak sedang berada di Denpasar Bali. Jika ada di antara Anda yang mau membuktikan isu bilangan TA-URAT 482 di atas balkon Mall Ramayana, silahkan kontak saja salah satu teman Anda, atau keluarga Anda, atau siapapun yang Anda kenal, yang saat ini tinggal di Denpasar, dan mintalah yang bersangkutan datang ke Mall Ramayana, periksalah di tititk yang telah saya sebutkan di atas. Apakah betul, di sana tertulis angka “482” atau angka lain?

Selama angka itu masih ada, belum terhapus, maka Allah menjadi saksinya, bahwa angka TA-URAT 482, adalah angka misteri yang saya tuliskan di sana, saat membeli koper besar berwarna merah. Jika saya membohongi Anda, biarlah pada Akhir jaman, ketika Kristus kembali sebagai Hakim Agung, untuk menghakimi seluruh mahkluk, biar lah Kristus melemparkan saya ke dalam neraka, di mana ada api yang tidak akan pernah padam, dan ada ulat yang tidak akan pernah mati.

Karena koper tersebut, menggunakan kunci (gembok) berupa angka, maka angka TA-URAT 482, adalah angka yang saya pilih untuk menjadi “kunci” (gembok) dari koper besar tersebut.

Selain saya, masih ada satu orang (the trusted person”) yang juga mengetahui nomor kunci (gembok) dari koper tersebut. Sampai detik ini dan untuk selamanya, saya akan tetap menggunakan angka TA-URAT 482, sebagai kunci rahasia untuk membuka koper merah tersebut.

Kesimpulan tentaifnya adalah;

“Pemotongan Urat” alias TA-URAT” alias “Operasi Laparatomi Eksplorasi” yang dijalani Prof. Rama Metan, pada 27 Agustus 2019, di RSNGV Dili, bukanlah suatu peristiwa kebetulan. Bukan pula karena berlakunya “teori co-insidensi”.

Karena itulah orang bijak (bukan saya) berkata; “Everything happens for its reason”. Segala sesuatu terjadi karena ada alasannya masing-masing.

Pertanyaan renungannya kini adalah;

“Jika demikian ceritanya, lalu konsekuensi logis apakah yang akan harus ditanggung Prof. Rama Metan, karena kini, Prof. Rama Metan harus dikeluarkan dari “Perjanjian Yosua”, hanya gara-gara tidak menepati janjinya untuk menyelenggarakan LIGA CATUR UNPAZ?”

Jawaban atas pertanyaan di atas sederahana sekali, yaitu; “Lebih mudah langit dan bumi lenyap, dari pada satu titik dari Hukum TA-URAT batal” (Lukas 16:17).

Terima-kasih. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amen.

Sumber saduran: 

https://www.facebook.com/antoninho.rego.1/posts/145801719957616.

Tidak ada komentar: