Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Minggu, 17 Juni 2018

DON'T CRY FOR ME ARGENTINA (CR7 Menetapkan Standar Yang Terlalu Tinggi Bagi "The Messiah")


Artikel ini diposting di face book (Antoninho Benjamim Monteiro): , kemarin, 16 Juni 2018, hanya berselang beberapa menit setelah laga Argentina vs Islandia berakhir imbang (1:1). Jika Anda mau membacanya di laman face book, dapat Anda baca di sini: https://web.facebook.com/liobeino/posts/1579075548868022.


Saya tidak ingin mengomentari level permainan yang Argentina tampilkan malam ini. Data statistik memberitahukan kepada kita bahwa Argentina telah melakukan yang terbaik. 

Menguasai jalannya pertandingan, denganpenguasaan bola lebih dari 80%. Tapi dewi keberuntungan belum memihak kepada Argentina.

Mereka hanya bermain imbang (1:1) menghadapi "new comer" (pendatang baru) di Piala Dunia 2018, yang merupakan salah satu negara kecil di Eropa sana dengan memiliki populasi yang hanya sekitar 300.000 penduduk (populasi 1 RT Kota Jakarta).

Saya ingin sekilas memberikan sedikit catatan (renungan) tentang penampilan "The Messiah".

HEGEMONI DI ANTARA CR7 & LIONEL MESSI

Masing-masing dari kita boleh membangun asumsinya sendiri-sendiri, mengapa malam ini, merupakan malam yang begitu berat bagi seorang Lionel Messi.

Kedua bintang dunia yang sudah sama-sama mengoleksi 5 ballon'dior, setidaknya mendapatkan dua kesempatan yang nyaris sama persis.

Sama-sama mendapatkan kesempatan untuk mengeksekusi penalti. Ronaldo berhasil. Sementara Lionel Messi gagal.

Menjelang laga berakhir, sama-sama mendapatkan kesempatan melakukan tendangan bebas. CR7 berhasil. Dan sayangnya "The Messiah" gagal.

Kira-kira kenapa malam ini merupakan malam yang berat bagi seorang Lionel Messi. Salah satunya faktor "lucky blue".

Tapi ada satu sisi lain yang perlu saya angkat di sini, yakni sisi "psikologis".



CR7 dan The Messiah bukan hanya sama-sama tahu, tapi lebih dari itu, sama-sama menyadari sepenuhnya, bahwa dunia selalu membanding-bandingkan keduanya (siapakah yang lebih hebat).
Ini akan mempengaruhi mental dan emosi keduanya setiap kali tampil di lapangan, untuk mencoba tampil sebaik mungkin, sesempurna mungkin agar hegemoni mereka terus terjaga. Dan itu terus berlangsung dari waktu ke waktu.

Menurutku, ada karakter tertentu dari keduanya yang sedikit berbeda. Sang Messiah terlihat sedikit lebih "santun". Tiap kali cetak gol selalu dan selalu membuat "tanda salib".

Sementara CR7, menampilkan karakter yang berbeda. Agak sedikit terkategori sebagai "naughty boy" (bocah nakal).

Bahkan kadang-kadang, ayah angkat Martunis dari Tanah Rencong Banda Aceh ini, tidak berhasil mengendalikan diri, terutama dalam mengontrol kata-katanya.

Misalnya yang terjadi tadi malam. Dari sorotan kamera, saya menghitung, paling sedikit, sebanyak 3X CR7 mengeluarkan kata-kata "car(v)alho", kepada teman-temannya (mungkin maksudnya untuk menyemangati para colega).

Anda jangan mencoba-coba menngeluarkan huruf "v" dari kata "car(v)alho" di atas. Haram hukumnya.

Jika Anda melakukannya, Anda yang harus bertanggung-jawab di hadapan ALLAH. Bukan saya. Karena saat mengeluarkan kata itu, CR7 tidak sedang memanggil seorang "Ricardo Carvalho" (eks pemain bek timnas Portugal).

Seandainya dua-duanya diberi kesempatan oleh ALLAH untuk mengajukan satu permintaan jika dilahirkan kembali kedua kalinya ke dunia di masa depan, maka mungkin CR7 akan bilang; "Saya tidak ingin lahir di bumi satu jaman dengan Lionel Messi. Dan sebaliknya, Lionel Messi juga mungkin akan mengajukan permintaan yang sama".

Kita-kita ini bukanlah CR7 dan Lionel Messi. Maka kita kadang komen asal komen. Tapi jika kita berada di posisi keduanya, maka kita akan ikut merasakan, betapa beratnya menyandang status sebagai "pemain terbaik dunia".

Dan dalam event besar seperti ini, bangsa dan negara (Portugal & Argentina), serta fans berat di seluruh dunia, menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap keduanya.

Maka ketika dini hari tadi, CR7 memimpin Portugal mengakhiri pertandingan dengan begitu gemilang, mencetak hatrick, saat itu juga, seorang Lionel Messi, secara psikologis, merasakan beban berat.

Dia akan memasuki lapangan pertandingan, dengan beban pikiran bahwa CR7 menetapkan standar yang terlalu tinggi baginya.

Beban ini akan mempengaruhi performa "The Messiah" di lapangan. Dan hasilnya, malam ini adalah malam yang benar-benar berat bagi Lionel Messi, yang secara keseluruhan telah gagal mengeksekuti 24X penalti pada semua level, sepanjang karirnya di lapangan hijau .

Pertempuran baru saja dimulai. Ini bukanlah akhir dari segalanya. Jalan masih panjang. Saya berharap Argentina terus melangkah lebih jauh.

Semoga, dalam pertandingan-pertandingan mendatang, Sang Messiah membebaskan diri dari (beban) standar yang telah ditetapkan CR7 di awal Piala Dunia 2018.

Agar dengan demikian, dia bisa mengembalikan kualitas permainannya pada level tertinggi, dengan demikian, kita akan menyaksikan salah satu seniman bola dunia ini menyuguhkan aksi-aksi dan gol-gol menarik.

Mungkin saat ini, Sang Messiah sedang mengurung diri di kamar hotel di Rusia sana, sambil bergumam dalam hati;

"Don't cry for me Argentina. Because the battle just had begun. So keep calm and keep trust in me. I promise, I will do my best. Keep my words. God bless dear all out there".

Tidak ada komentar: