Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Selasa, 19 Juni 2018

"BENARKAH NOTONOGORO ITU BERHUBUNGAN DENGAN NAMA-NAMA PRESIDEN INDONESIA?"

Sebelum meninggalkan Dili untuk kembali ke Bali pada 25 Mei 2018, saya sempat berdiskusi dengan sahabatku SBY (Giovanni Giossepi Gianinni), untuk mengurus visa sebelum kembali ke Bali, agar tidak terlalu boros, bolak-balik Dili-Denpasar hampir tiap bulan.

Dalam kurun waktu setahun terakhir, hampir tiap bulan, bolak-balik, balik-bolak Dili Denpasar, Denpasar Dili, bahkan sebulan 2X, menghabiskan anggaran yang tidak sedikit.


Karena, jika masuk ke wilayah NKRI, tanpa menggunakan visa untuk tinggal sementara (60-90 hari), maka kita hanya diijinkan berada di wilayah NKRI, tidak boleh lebih dari 30 hari.

Sebelum jatuh tempo, alias sebelum melewati batas waktu 30 hari, kita sudah harus meninggalkan wilayah NKRI. Jika lebih dari 30 hari, itu sudah langsung, menyandang status "over stay".

Berdasarkan Hukum Imigrasi Indonesia, over stay satu hari saja, kena denda sekitar Rp 300,000 (jika saya tidak salah).

Saya tidak tahu persis (sudah lupa) karena hanya pernah sekali terkena over stay, pada tahun 2003 (15 tahun lalu). Saat itu saya terkena over stay "5 hari". Saat itu, over stay sehari dendanya Rp.200.000. Waktu itu, saya kena denda Rp 1.000.000, gara-gara urus KITTAS tidak beres-beres.

KAKEK MISTERIUS TIDAK MENGIZINKAN

Tapi akhirnya pengurusan visa dibatalkan karena "Kakek Misterius" melarang. Saya diminta balik ke Bali dengan "misi utama": dalam waktu 30 hari, saya harus bisa menemukan dua lembar(an) lima ribuan rupiah, di mana tertulis akasara SUN & RAM dengan bilangan-bilangan sebagaimana telah saya tuliskan melalui artikel edisi 28 Mei 2018, yang diposting di laman face book Antoninho Benjamim Monteiro, yang bisa Anda baca di sini: https://web.facebook.com/liobeino/posts/1559003484208562.

Dalam artikel tersebut saya menyediakan "uang lelah" Rp 999.000.000 (sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh ribu rupiah), bagi siapapun yang berhasil menemukan dua lembaran lima ribuan tersebut.

Tapi puji TUHAN YESUS. Pada 9 Juni 2018 kemarin, Kakek Misterius muncul dan memberikan pesan; saya tidak perlu repor-repot mengeluarkan lagi dana untuk itu.

Saya diminta datang saja ke Gereja Santo Yosef di Jalan Kepundung pada Hari Minggu, 10 Juni 2018. Di sana seseorang akan memberi saya lembaran lima ribuan yang di dalamnya tertulis huruf SUN dengan angka triple "555".

Akhirnya pada 10 Juni 2018 kemarin, saya datang mengikuti Perayaan Ekaristi di Gereja Santo Yosef Kepundung Denpasar. Dan di sanalah, persis pesan Kakek Misterius, melalui transaksi,"seseorang" yang tidak pernah saya kenal sebelumnya, memberi saya lembaran lima ribuan yang berisi aksara: SUN dan angka triple: 555, simbol-simbol yang telah saya sebutkan dalam artikel edisi 28 Mei 2018 (baca disini: https://web.facebook.com/liobeino/posts/1559003484208562).

Nanti malam, saya akan memperlihatkan lembaran lima ribuan tersebut. Sementara lembaran lima ribuan yang lain, yang tertulis aksara RAM dan angka 812, belum saya temukan hingga catatan ini dibuat.

Kakek Misterius hanya berpesan, besok, 20 Mei 2018, saya harus mengunjungi tempat di mana RENETIL pernah dideklarasikan pada 30 tahun lalu (20 Juni 1988), dengan tujuan, selain untuk menerima lembaran lima ribuan yang berisi aksara RAM dan bilangan 812, juga Kakek Misterius berjanji, saya juga akan menerima lembaran sepuluh ribuan rupiah yang bersisi "Identitas Nasional Timor Leste 670 sekaligus identitas RENETIL: 259".

Kedua kumpulan bilangan yang melambangkan identitas peradaban Timor Leste (670) juga melambangkan identitas RENETIL (259), sama-sama tertulis dalam lembaran sepuluh ribuan.

"Mengapa harus "sepuluh ribua?" Karena RENETIL dideklarasikan pada 30 tahun lalu oleh 10 orang Declarator.

Mudah-mudahan, besok, 20 Juni 2018, Kakek Misterius bisa menepati janjiNya.


"BENARKAH NOTONOGORO BERHUBUNGAN ERAT DENGAN NAMA-NAMA PRESIDEN INDONESIA?"

Saat ini, saya sedang menyiapkan sebuah artikel untuk diposting menjelang tengah malam nanti, guna memperlihatkan lembaran lima ribuan yang berisi aksara: SUN dan angka triple 555.

Kemarin, 18 Juni 2018, saya memposting artikel berjudul; ITALIA GAGAL LOLOS KE RUSIA GARA-GARA EYANG JOYOBOYO MENINGGALKAN WASIAT NOTONOGORO.

Sejumlah sahabat memberikan komen mereka via inbox, dengan mengatakan bahwa; NOTONOGORO itu ada kaitan dengan nama-nama Presiden Indonesia. Tidak mungkin ada hubungannya dengan kegagalan Italia lolos ke Rusia.

Saya hanya ingin mengatakan begini;

"Dalam dunia delman, berlaku pakem: kita duduk di atas kereta dan mengendalikan kuda untuk menarik kereta. Bukan sebaliknya, kita duduk di atas punggung kuda dan mengendalikan kereta menarik kuda".

Nanti malam (tengah malam), melalui artikel yang saat ini sedang saya siapkan, sambil memperlihatkan lembaran lima ribuan termasuk, juga sekaligus saya akan menjelaskan; "Mengapa saya tidak sedikitpun ragu menyatakan bahwa yang dimaksud dengan warisan Eyang NOTONOGORO itu, bukan berkaitan erat dengan nama-nama Presiden Indonesia.

"Jika NOTONOGORO ada hubungannya dengan nama-nama Presiden Indonesia, maka pertanyaan naifnya adalah, di bagian mananya NOTONOGORO, kita boleh menempatkan nama HABIBIE, GUS DUR, MEGAWATI & JOKO WIDODO?"

Jika NOTONOGORO menjadi pakem yang berlaku mutlak (karena memiliki kebenaran absolut) bagi kemunculan setiap Presiden di Indonesia, maka seharusnya 4 nama yang saya sebutkan di atas, tidak boleh muncul.

Dalam artikel nanti malam, saya akan menyinggung sekilas bab 4 makalah berjudul: KRYGMA DALAM CINCIN MATAHARI YANG GAIB, yang saya edarkan pada November 2006.

Bagi rekan dan sahabat serta handai taulan yang sekiranya masih menyimpan makalah setebal 7 bab tersebut, sambil nonton bola, tolong buka kembali makalah tersebut dan baca bab 4 berjudul; MISTERI JUM'AT AGUNG DI TERMINAL JOYOBOYO 10 APRIL 1998.

Semoga catatan ini bermanfaat.
Salam erat persaudaraan dari Bukit Sulaiman Bali Indonesia.

TUHAN YESUS memberkati,
Bunda Maria merestui,
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amen.

Tidak ada komentar: