Selamat datang di Blog Darah Daud 303. TUHAN YESUS memberkati kita semua (hitam & putih)

Rabu, 25 Januari 2017

BENARKAH PROPOSAL SAYA MENGAKIBATKAN MUNCULNYA POLARISASI TERTENTU DALAM TUBUH PARTAI DEMOKRAT? (Padahal Proposalku Tidak Berlatar Belakang Primordialisme)


"Lihat, AKU mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati" (Injil Santo Matius, 10:16).

Saya mendengar khabar dari "abaga", bahwa usulan saya mengenai 3 kriteria absolut yang harus dipenuhi kandidat Presiden Partai Demokrat (PD), sebagaimana yang telah saya sampaikan melalui artikel edisi 20 Agustus 2016, telah memunculkan "polarisasi" tertentu dalam tubuh PD. Frasa "polarisasi" boleh Anda men-susbtitusi-nya menjadi "kubu-kubu".


Khabar dari "abaga" mengatakan bahwa gara-gara usulan saya, yang diterbitkan di laman ini, 20 Agustus 2016, mengakibatkan kader PD yang bukan "Membro Jurado Renetil" (MJR), merasa "didiskriminasi" untuk kemudian "dieliminasi" dari "peredaran".

Kalau boleh jujur, saya ingin sekali mengatakan, ketika saya menyampaikan usulan tersebut, saat itu saya tidak sedang melakoni apa yang oleh kalangan politikus dinamakan; PPE (Praktek Politik Eliminasi). Karena sejatinya, saya bukan seorang politikus. Saya ini seorang "misticus".
Paradigma berpikir seorang "misticus" itu, khususnya "misticus sejati" (bukan misticus jadi-jadian), selalu berpola; universal & imparsial". Bukan "fraksional & parsial".

Pemikiran misticus selalu berorientasi kepada ukuran; "benar- salah", baik-buruk, namun bukan "untung-rugi", karena "misticus" itu tidak suka mencari "keuntungan" di atas "kerugian" orang lain.
Kalau saya berpegang pada pola hidup; mencari keuntungan sebesar-besarnya dan menghindari kerugian sekecil-kecilnya, mendingan saya jadi "pedagang" atau "pebisnis" saja.

Apalagi saya "orang Atsabe" yang umumnya memiliki "jiwa dagang" kuat karena "turunan" (namun bukan karena "tanjakan"). Orang Bugis-Makassar aja kalah bersaing. "Hau tutur tais ida iha hau nia ulun, hau la'o husi Dili tama to tiha Lospalos".

Buat apa menyusahkan diri, buang-buang waktu dan energi yang begitu banyak untuk melakoni "Puasa VVV" selama 13 tahun (2003 - 2016). Bayangkan saja, 13 tahun itu bukan waktu yang singkat.

Jika 13 tahun itu saya gunakan baik-baik untuk "berdagang", maka saya sudah hidup enak saat ini. Tidak kesusahan seperti saat ini. Makan aja harus bon di warung. Rumah aja kagak punya.

Atau kalau waktu 13 tahun itu saya gunakan untuk "cetak anak", saat ini anakku sudah 6 kepala (sudah bisa membentuk sebuah tim basket) dengan catatan; tiap dua tahun cetak satu kepala.
Kalau waktu 13 tahun itu saya gunakan untuk mengikuti "pendidikan formal", maka saat ini saya sudah bergelar S3 (Doktor).

Jangan mengira 13 tahun menjalani Puasa VVV, di mana salah satu "V" adalah "Vaginaless" (tidak menyentuh wanita), itu karena saya mengalami "disorientasi sexual" alias "mane liras tohar".

Ingat..! Ciri berpikir seorang "misticus" yang berpola(risasi) "universal & imparsial" itu, ada keniscayaan di dalamnya untuk senantiasa menyediakan ruang yang memiliki tingkat "permeabelitas" (daya serap) yang tinggi. Jadi ruang berpikir "misticus" itu selalu "permeabel", bukan "impermeabel", apalagi bertujuan menciptakan suatu tatanan sosial & politis yang berifat segmental dan fraksional, termasuk membentuk kubu-kubu.


SEBUAH KONSEPSI BISA SAJA LAHIR DARI MIMPI

Banyak Filsuf berkata; "Sebuah konsepsi bisa saja lahir dari mimpi, entah mimpi itu biasa-biasa saja hingga mimpi yang sangat aneh dan ekstrim".

Banyak sekali ilmuwan masa lalu, merumuskan temuan-temuan mereka, yang diawali (langkah pertama) karena "bermimpi".

Bahkan tokoh "Psikoanalisa Sigmund Freud", dokter kenamaan asal Austria, yang menuliskan bukunya; "The Interpretation of Dream" (yang diterbitkan tahun 1900, kemudian dibolong-bolongi oleh Prof. Erick Fromm, tokoh Psikoanalis Sosial asal Jerman), berkata bahwa; melalui mimpi seseorang bisa menemukan dan kemudian merumuskan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia, asal yang bersangkutan memiliki "akal-budi" (ahklak) dan tidak sedang mengalami suatu "psikosis".

Poinnya adalah, selama belum ada undang-undang yang melarang; maka kita boleh saja mentransfer mimpi-mimpi kita menjadi pengetahuan, untuk kemudian merubah "pengetahuan" itu menjadi "ilmu pengetahuan". Karena antara "pengetahuan" dan "ilmu pengetahuan" adalah dua hal yang berbeda.

Sebab pengetahuan bisa muncul kapan saja, tanpa harus melalui "metodologi" tertentu. Contohnya; "bermimpi". Mimpi bukanlah sebuah metodologi. Karena yang namanya mimpi, sulit sekali, bahkan mustahil untuk bisa diulang, apalagi dilakukan "verifikasi" (pembuktian lurus) atau "falsifikasi" (pembuktian terbalik).

Maka pada tataran ilmiah, kita tidak bisa - bahkan tidak boleh - menggolongkan "mimpi", dalam bentuk apapun, sebagai suatu "ilmu pengetahuan". Karena yang namanya ilmu pengetahuan itu, harus dirumuskan melalui (uji) "metodologi-metodologi" tertentu.

Sekedar ilustrasi tambahan. Anda pernah belajar Ilmu Fisika dalam topik Mekanika? Jika pernah, maka Anda pasti belajar tentang "Hukum Newton?". Ada 3 hukum Newton tentang gerak benda (dikenal dengan nama; Newton I, Newton II dan Newton III).

Anda tahu, bagaimana awal mulanya Sir Isaac Newton, Ilmuwan Inggris, kelahiran 25 Desember 1642, menemukan dan kemudian merumuskan "hukum-hukum Newton tentang gerak benda-benda?"
Seorang Newton merumuskan hukum-hukumnya, dimulai dengan suatu malam "tiduran" di bawah pohon apel, kemudian bermimpi. Saat sedang keasyikan bermimpi, ada buah apel jatuh menimpuk kepalanya. Akibatnya Newton terbangun dan mimpinya terputus.

Newton memungut buah apel itu dan menggenggamnya erat-erat sambil memandang jutaan bintang di langit. Karena Newton memiliki akal budi, maka muncul lah pertanyaan fundamental yang membawanya merumuskan hukum-hukum tentang gerak benda.

Pertanyaan fundamental tersebut adalah; "Mengapa buah apel bisa jatuh, sementara bintang-bintang di langit tidak jatuh ke bumi?"

Dari sinilah, Newton kemudian menemukan inspirasi untuk selanjutnya merumuskan "hukum gravitasi" yang mempengaruhi gerak benda-benda, termasuk gerak(an) planet-planet (Merkurius, Venus, Bumi, Mars Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto), mengelilingi "Matahari" (baca: Pangeran Surya).

Namun jika saat itu Sir Isaac Newton tidak memiliki akal budi, atau memiliki akal budi, tapi menderita "psikosis" (suatu kondisi kejiwaan di mana seseorang kehilangan daya realitas, karena mengalami tiga jenis disorientasi, yakni; disorientasi terhadap diri, ruang & waktu), maka niscaya, Newton tidak akan pernah bisa mentransfer serangkaian kejadian (empirik) yang dialaminya, yang dimulai dari mimpi hingga ketimpuk buah apel, menjadi "ilmu pengetahuan".

Atas dasar itulah, saya ingin sekali mengatakan; "Jika kita memiliki akal budi, maka kita bisa merubah mimpi menjadi 'konsepsi'. Kemudian mereduksi konsepsi menjadi 'visi dan misi'.

Selanjutnya melakukan "derivatisasi" (kembali mereduksi) visi dan misi ke tingakat yang lebih "pragamatis" (memiliki nilai manfaat), yang disebut "program konkrit" yang bersifat "practicable" (bisa diaplikasikan di level praxis). Namun semuanya itu hanya bisa kita lakukan jika kita memiliki akal budi dan tidak sedang menderita psikosis".



PROPOSAL SAYA SAMA SEKALI TIDAK KARENA ALASAN-ALASAN PRIMORDIALIS(ME)

Tanggal 19 Agustus 2016, saya mendapatkan mimpi aneh, yang terlalu panjang untuk dikisahkan di sini. Namun berdasarkan mimpi aneh itulah, saya merumuskan mimpiku dalam bentuk "proposal" (usulan), sebagaimana telah saya tuliskan melalui artikel, edisi 20 Agustus 2016. Artikel tersebut masih ada di laman ini.

Usulan tersebut adalah; Siapapun yang memiliki minat dan hasrat untuk maju dalam Konggres Partai Demokrat mendatang guna menggantikan posisi Almarhum, Companheiro Fernando La Sama De Araujo, sebagai Presiden Partai Demokrat, maka wajib hukumnya, harus memenuhi 3 kriteria absolut berikut ini;

(1). Harus berstatus sebagai Membro Jurado Renetil (MJR)
(2). Harus berjenis kelamin pria
(3). Harus "Keturunan Daud" (secara biologis)


Nah, konon proposalku di atas, mengakibatkan munculnya "polarisasi" (kubu-kubu) tertentu di tubuh PD. Beredar khabar bahwa kader-kader PD yang bukan berstatus MJR, mulai membentuk kubu tersendiri guna menggalang kekuatan untuk "menghadang" laju kader-kader PD yang berstatus sebagai "MJR".

Jujur saja, saat menyampaikan usulan tersebut, sama sekali bukan karena dilatar-belakangi oleh alasan-alasan yang bersifat "primordial" hanya karena saya yang adalah seorang "MJR" memiliki banyak sekali "rekan seperjuangan" dalam tubuh PD yang juga adalah orang-orang yang berstatus sebagai "MJR".



Bahkan saya justeru merasa bahwa di dalam tubuh PD, banyak sekali orang-orang MJR yang saya kenal luar dalam, yang selama ini justeru telah berkali-kali melakukan "stigmasi" dengan memberi saya cap khusus sebagai "orang gila".

Ini adalah bagian dari "pembunuhan karakter seseorang". Berdasarkan khabar yang saya dengar dari "abaga", banyak sekali orang-orang MJR yang selalu mengatakan saya orang gila. Tiga di antara MJR yang suka melakukan stigmasi terhadap saya yaitu;

(1). Companheiro Carlos Saky" (Penulis buku Renetil)
(2). Companheiro Joaquim Da Costa Freitas (mantan Asessor Perdana Menteri Xanana Gusmao yang saat ini menjabat sebagai Presiden Steering Committee untuk Konggres PD mendatang) dan
(3). Prof. Dr. Rama Metan,SE,MSi (Rektor Unpaz)


Saya dengar khabar dari "abaga" yang berkata bahwa ketiga tokoh MJR ini, di hadapan banyak orang, selalu berkata;

"Kalian jangan percaya 'manumean'. Dia itu 'orang gila'. Masa kalian yang adalah manusia-manusia normal, mau saja "dikadalin" orang gila? Keturunan Daud dari mana? Dari Hongkong-Macau?"

Benarkah saya "orang gila" hanya karena saya memasukkan item (syarat) ketiga, tentang "Keturunan Daud)???

Untuk "menguji" apakah alasan saya menyertakan syarat "Keturunan Daud", karena saya "orang gila" atau karena saya "orang beriman", maka pada Hari Sabat, tanggal 21 Januari 2017, bertempat di rumah makan TEMAN, Panjer Denpasar Bali, saya "memohon bantuan TUHAN YESUS yang maha mengetahui segala rahasia", untuk menolong saya, "membuktikan" kepada dua kader PD (KM & KL), yang juga berstatus MJR, "apakah dalam tubuh PD benar-benar ada Keturunan Daud atau tidak?"

Dan TUHAN YESUS dengan segala kuasa-Nya telah memastikan kepada dua kader PD yang juga berstatus MJR bahwa saya tidak sedang melakoni lelucon kosong dan komedi basi di abad 21 ini.

Melalui kejadian "adi-kodrati" tanggal 21 Januari 2017, TUHAN memastikan bahwa dalam tubuh PD benar-benar ada "Keturunan Daud" secara biologis. Ini artinya bahwa orang yang masih misteri tersebut benar-benar mewarisi DARAH DAUD dalam tubuhnya.

Karena orang tersebut "mewarisi DARAH DAUD", maka dengan sendirinya orang tersebut telah "mewarisi JANJI TUHAN". Karena orang tersebut telah "mewarisi JANJI TUHAN", maka itu artinya hanya orang tersebutlah, satu-satunya manusia yang disebut; THE PROMISED MAN (Manusia Perjanjian), sebagaimana telah tertulis dalam Kitab Suci (dia adalah tarukh yang tumbuh dari tanah kering), yang memiliki BERKAT dari TUHAN untuk merubah "TANAH TERKUTUK" menjadi "TANAH TERJANJI".

Bukan yang lain, yang tidak mewarisi JANJI TUHAN. Meskipun orang lain itu saat ini mungkin dielu-elukan, bahkan "dikultuskan" sebagai "manusia agung" di Timor Leste.

Jujur saja, kalau bukan karena "perintah TUHAN" yang disampaikan melalui mimpiku tanggal 19 Agustus 2016, maka saya sama sekali tidak terlalu peduli, siapa yang harus menjadi Presiden PD.

Saya tidak mau menghabiskan waktu, tenaga dan dana saya untuk menulis artikel. Karena menulis artikel itu butuh skill, butuh tenaga/energi, butuh dana, butuh waktu, dan seterusnya. Bukan ujug-ujug, kemudian muncul artikel di hadapan Pembaca.

Jujur saja, menurutku, setidaknya hingga detik ini, siapa pun yang menjadi Presiden PD, sama sekali tidak akan membuat perbedaan dalam hidup saya. Saya akan tetap menjadi "seorang gembel".
Apa yang saya terima dari "Yang Di Atas" itulah yang saya sampaikan. Karena saya hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kuasa sedikitpun untuk merubah "Hukum Ilahi".

Ketika saya menuliskan proposal saya, itu saya lakukan sebagai bagian dari "kesaksian iman". Bukan karena saya sedang "mengincar kekuasaan" di Timor Leste melalui PD.

Telah muncul 3 Presiden Timor Leste. Tapi ketiga Presiden tersebut sama sekali tidak membuat perbedaan dalam hidup saya. Bahkan kekayaan di Celah Timor sudah mau habis, namun hidup saya tetap aja mencerminkan hidup seorang "gembel (Senin-Kemis).

Nah, kalau 3 Presiden Republica Democratico Timor Leste saja sama sekali tidak mampu membuat hidupku berubah dari seorang "gembel" menjadi "kaum gedongan", mungkinkah Presiden Partai Demokrat, suksessor maun bot Fernando La Sama De Araujo, mampu membuat perbedaan?

============================================
"Pemerintahan yang baik bertumpu pada masyarakat banyak, dan bukan pada segelintir orang, bertumpu pada moralitas yang baik dan bukan pada kekayaan, bertumpu pada opini publik dan bukan pada kekuasaan yang bersifat otoriter" (George Bancrot, Sejarawan Amerika; 1800-1891).
============================================


Semoga catatan (ngalor-ngidul) ini bermanfaat.
Salam "Dua Hati" dari "Bukit Sulaiman".

TUHAN YESUS memberkati,
Bunda Maria merestui,
Santo Yosef melindungi kita semua (hitam & putih). Amin.

Tidak ada komentar: